Menghadapi Jurnalis Kampus: Tips untuk Calon Narasumber

Apakah kamu seorang mahasiswa yang luar biasa? Apakah kamu seorang pejabat kampus? Ataukah seorang ketua organisasi? Atau, kamu adalah mahasiswa berprestasi yang inspiratif? Atau mungkin, kamu pendiri start up yang sukses dan cukup keren?

Halo, orang-orang yang merasa penting!

Tulisan sederhana ini kira-kira cocok untuk kamu yang saat ini atau kelak menduduki jabatan-jabatan strategis di kampus, menjadi seorang pakar, peneliti, atau ahli dalam suatu disiplin ilmu, menjadi sosok yang berprestasi atau inspiratif, berkiprah dalam bidang tertentu yang berhubungan dengan banyak pihak, menjadi saksi kunci dalam sebuah peristiwa, atau siapa pun kamu yang berpotensi menjadi seorang narasumber. Yeay!

Selamat membaca!

Seorang pewawancara atau jurnalis kampus yang lihai berbasa-basi, punya kepekaan hati, dan selera humor yang tinggi biasanya akan lebih mudah mendapatkan data dan beberapa kalimat “dewa” dari para narasumber.

Di dalam otaknya, terdapat semacam cadangan topik, pertanyaan tak penting, dan pernyataan persuasif yang siap dilontarkan untuk mengendalikan percakapan.

Jika kamu berjumpa dengan pewawancara semacam itu dan ingin menjadi seorang narasumber yang oke, ada beberapa tips yang mesti kamu pahami dan kamu implementasikan. Selamat mencoba!

Satu

Ketika proses wawancara, tetaplah bersikap baik dan ramah. Sebisa mungkin, jangan perlihatkan gelagat bingung, canggung, atau bahkan kesal. Ingat, gestur dan mimik muka kamu bisa menjadi bagian dari pemberitaan. Pasanglah sikap yang tegas lalu berbicaralah dengan lugas dan tuntas; to the point, jawablah sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pewawancara.

Dua

Aku sarankan kamu sedikit-banyak mengerti kaidah atau prinsip dasar jurnalisme. Akan lebih baik lagi jika kamu juga menyempatkan mencari informasi soal pers mahasiswa dan aktivitas jurnalis kampus. Kamu bisa membaca beberapa buku terkait atau bertanya langsung pada ahlinya. Itu penting. Jangan sampai, ketidaktahuan kamu menjadi bumerang yang dapat meunurunkan citra dan reputasimu.

Tiga

Pahami baik-baik konsep on record dan off record. Seorang jurnalis kampus yang punya jam terbang tinggi, kadangkala bisa membuatmu nyaman untuk menyampaikan semua isi kepalamu. Ia mendadak bisa jadi kawan ngobrol yang asik dan menyenangkan.

Namun, kamu harus tetap menjaga batas pembicaraan ketika diwawancarai. Selain itu, kamu juga harus sadar bahwa semua ucapanmu direkam dan berhak dikutip selama itu on record.

Akan tetapi, tenang saja, kamu tetap bisa bercerita panjang lebar tanpa khawatir ucapanmu dikutip selama kamu menghendaki off record untuk beberapa kalimat yang kamu anggap rahasia. Seorang jurnalis yang mempunyai kredibilitas akan sangat menghargai hal itu.

Namun, ingat, jangan mentang-mentang kamu punya hak untuk wawancara off record, kamu bisa seenaknya untuk menyembunyikan semua informasi yang kamu miliki. Sebagai narasumber, kamu harus arif memilah dan memilih informasi mana yang layak dan penting untuk kamu sampaikan atau tidak. Ingat, di balik seorang jurnalis yang menulis sebuah berita, ada kepentingan publik yang harus kamu pikirkan.

Oh ya, perlu kamu ketahui juga. Perkara on dan off record ini bisa menjadi sebuah tawar-menawar. Untuk beberapa kasus, pewawancara memang membutuhkan kalimat kutipan yang kamu utarakan sebagai bukti, penguat berita, atau pun sekedar “tohokan” yang bisa menambah validitas dan kualitas informasi. Dalam hal ini, jurnalis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar nilai berita dan ketajaman isu melalui kutipan tersebut.

Bila beberapa kutipan yang jurnalis anggap penting berada di ranah off record, mereka biasanya akan melakukan negosiasi agar kutipan tersebut tetap diperbolehkan untuk ditulis. Jadi, bersikaplah bijak dalam proses negosiasi ini. Biasanya, tawar-menawar yang berlangsung dengan baik akan menghasilkan kesepakatan yang bersifat win win solution.

Empat

Hak narasumber untuk berbicara, meralat perkataan, dan menentukan mana yang boleh dikutip dan mana yang tidak boleh hanya ada pada saat proses wawancara berlangsung. Karena itu, kamu harus benar-benar memikirkan secara matang dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kamu katakan.

Kamu tidak bisa memeriksa tulisan jurnalis apalagi ikut mengeditnya sebelum tulisan atau berita itu dipublikasikan. Jadi, jika misalnya kamu merasa ada sesuatu yang menurut kamu tidak pantas untuk dipublikasikan sementara jurnalis sudah selesai mewawancarai kamu, usahamu untuk memperbaiki perkataanmu itu akan sia-sia. Karena itu, kamu harus bersikap sebijak mungkin dalam hal ini, jangan sampai ceroboh.

Lima

Jangan dendam. Itu tak kalah penting. Apabila kamu adalah seorang narasumber yang berada dalam kumparan kepentingan dan para jurnalis memberitakan hal-hal yang bisa jadi menyerang kamu, tetaplah bersikap bijak. Bisa jadi, kamu, institusimu, atau apa pun yang sedang menjadi tanggung jawabmu memang sedang perlu diperbaiki. Jadikanlah itu bahan evaluasi.

Bersikaplah biasa saja dan jangan emosional memghadapi berita-berita semacam itu. Jika kamu memang benar-benar berjiwa “orang penting”, pemberitaan miring dan bersifat destruktif merupakan hal yang wajar dan akan terus ada.

Enam

Jika jurnalis kampus memberitakan hal bohong, tidak sesuai dengan fakta, dan melenceng dari apa yang sudah kamu katakan, kamu bisa menuntutnya. Jangan diam saja. Ingat, narasumber selalu punya hak jawab dan hak klarifikasi dalam sebuah pemberitaan.

Selain itu, kamu juga harus bisa membedakan mana pers mahasiswa yang mempunyai kredibilitas mana yang tidak. Ingat, tidak semua media mahassiwa biasa menulis berita dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Nah, dalam hal ini, kamu dituntut peka dan sadar terhadap segala bentuk pemberitaan yang menyeret nama kamu. Jika pemberitaan tersebut melanggar asas kebenaran dan bahkan tidak sesuai dengan konsep-konsep jurnalistik, kamu boleh melakukan protes.

Bahkan, kamu juga bisa menuntutnya ke meja hijau jika apa yang diberitakan benar-benar salah, selama kamu cukup punya bahan untuk membuktikan hal itu. Selain itu, jika kamu merasa berita yang dikeluarkan tidak cover both side dan hanya menyudutkan satu pihak saja, kamu juga bisa komplain dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada.

Tujuh

Tetaplah hati-hati namun hindari overthingking dan berprasangka buruk. Ya jangan mentang-mentang sangat hati-hati terus semuanya ditutup-tutupi. Kamu harus ingat hak publik untuk mengetahui informasi penting dari kamu. Bisa jadi, kejujuranmu akan berdampak baik bagi kemaslahatan umat.

Soal anonim. Itu sebenarnya menjadi salah satu dari hak narasumber. Namun, perihal anonim tersebut bukanlah hal yang main-main. Kamu bisa menggunakan hak anonim itu selama informasi yang kamu ketahui benar-benar bisa mengancam jiwa atau membahayakan orang-orang di sekitarmu.

Biasanya, sumber anomin akan dilindungi oleh pers yang bersangkutan, mereka tidak akan membocorkan identitasmu sekali pun pada pihak yang berwenang (misalnya kepolisian dan kejaksaan).

Namun, sebisa mungkin, jika memang tidak dalam keadaan yang sangat terpaksa, alangkah baiknya jika kamu tidak menyembunyikan identitasmu, apalagi kalau informasi yang kamu ujarkan mempunyai dampak yang signifikan pada publik.

Kamu harus tahu, sebaik-baiknya kualitas sebuah berita adalah yang baik dalam hal verifikasi dan keabsahan sumber. Jika memang penyebutan identitasmu dapat menambah validasi berita dan bahkan bermanfaat bagi khalayak luas, mengapa harus menghendaki anonim?

***

Pada dasarnya, pekerjaan jurnalistik itu mulia. Para jurnalis kampus yang masih idealis mempunyai tujuan utama untuk membela kepentingan publik. Mereka menginformasikan sesuatu yang bermanfaat, mendidik, dan membuka wawasan bagi sivitas akademika maupun khalayak  yang menjadi segmentasi atau konsumen dari sebuah berita.

Selain itu, jurnalis kampus juga mempunyai kewajiban untuk menjadi watch dog dan pilar keempat demokrasi di dalam kampus. Sehingga, tak heran jika mereka menjadi garda terdepan ketika mengkritisi kebijakan dan berbagai peristiwa yang berpengaruh pada publik kampus.

Jurnalis kampus bukanlah musuh yang harus dilawan atau hantu yang harus ditakuti. Idealnya, mereka bisa menjadi kawan yang baik; mereka akan mendukungmu selama kamu tidak merugikan publik dan akan mengingatkanmu jika kamu bersalah.

Ngomong-ngomong, sedikit cerita, sebagai jurnalis kampus atau penggiat pers mahasiswa, aku pernah beberapa kali mendapatkan tekanan maupun komplain dari para narasumber. Ada yang protes soal  kesalahan penulisan nama, komplain soal tulisanku yang menurut mereka kurang sesuai dengan fakta, hingga memintaku untuk mengganti atau bahkan menghapus berita yang sudah beredar.

Menanggapi hal itu, aku biasanya mencoba menjelaskan dengan baik-baik pada para narasumber, namun tetap saja, ada yang menerima dan tidak sedikit yang kukuh menolak. Sebagai jurnalis kampus yang masih idealis, aku selalu berusaha menuliskan berita sesuai dengan fakta yang ada.

Bahkan, untuk beberapa kasus, aku dan beberapa rekan seringkali sampai harus memverifikasi ulang (menanyakan kembali) beberapa informasi pada narasumber terkait atau memutar sebuah rekaman berulangkali hanya untuk mendapatkan kutipan yang benar-benar sesuai dengan apa yang diujarkan oleh narasumber.

Jika kamu kelak menjadi seorang narasumber, beruntunglah jika berjumpa dengan jurnalis kampus yang masih idealis. Kamu tak perlu khawatir dengan berita bohong atau kesalahan dalam pengutipan. Namun, jika dalam suatu waktu kamu berjumpa dengan jurnalis yang kurang idealis, itu akan menjadi tantangan tersendiri buatmu untuk tetap mempertahankan kebenaran yang kamu yakini.

Pada akhirnya, semua berita, betapa pun pahitnya, haruslah merujuk pada kebenaran sebagai bagian dari norma universal yang harus dijunjung tinggi. Berdasar dari hal itu, sebagai calon narasumber, siapkah kamu bersama-sama dengan jurnalis kampus, berjuang demi kebenaran?

Frista Nanda Pratiwi

Reporter Pers Suara Mahasiswa UI

Gambar dipinjam dari sini.

Tak Beranjak

image

Pada sebuah malam yang pincang; tanpa bintang-bintang. Angin berembus ke Selatan, membawa daun-daun gugur berhamburan. Berserakan.

Aku masih di sini. Tak beranjak. Seperti bunga yang kuncupnya tak bisa mekar terbuka, hasratku meringkuk di balik jeruji malam, meratapi purnama yang tiada kunjung tenggelam.

Aku masih di sini. Tak beranjak. Sibuk mengutuk sepi; berharap gulita segera pergi berganti cahaya pagi. Tapi sia-sia; malam masih terasa panjang membentang, dan waktu yang berlalu bagai siksa yang tak bisa sekejab sirna.

Aku masih di sini. Tak beranjak. Bersama racau dan gegar yang tak pernah kumengerti. Entahlah. Mungkin, semampang jarak masih tak terkira, mustahil bila ini bukan perkara rindu.

Baiklah. Maaf, aku masih merindukanmu.

Depok, 30 Desember 2016

fristananda.tumblr.com

Piara dalam Penjara

Pagi kembali. Embun-embun sirna. Tak kulihat lagi aroma sisa hujan semalam. Tapi yang ada, hanya kuncup-kucup Sepatu yang mulai mekar mengembang. Ayam pun berhenti berkokok. Keheningan berganti letup suara-suara klakson yang memantul dari jalanan yang mulai dikerubungi kendaraan.

Semburat sinar jingga menyeruak masuk melalui celah-celah kaca jendela. Ya, mentari benar-benar hadir lagi. Namun, aku tak lagi merasakan hangat sentuhannya. Aku juga tak lagi merasakan sepijar semangat dari cahayanya. Hanya dingin. Gigil menyetubuhi ragaku yang letih.

Sudah seminggu tepatnya, influenza tak jua enyah dari badanku. Rasa kantuk akibat parasetamol dipadu dengan ngilu yang terpatri di sendi-sendi menjadi musuh yang harus kulawan.

Aku sejenak tertegun, menghela napas dan mengendalikan rasa ikhlas. Kulihat kasur dengan seprai yang masih berantakan dipadu dengan bantal guling yang berhamburan entah ke mana. Masih tercium dengan jelas, aroma cairan putih yang tercecer lengket pada badcover motif bunga-bunga yang menggelangsar di atas kasur. Bekas semalam.

***

Usiaku baru 30 tahun. Tapi jangan ditanya. Tubuhku tak lagi seindah dahulu. Aku tak lagi bisa berbangga dengan payudara sintal yang memantul-mantul tatkala kubawa ragaku berjalan. Tumpukan lemak juga mulai menjalar di sekitar perut dan lenganku. Pinggangku pun tak lagi ramping. Vaginaku juga tak lagi serapat tujuh tahun yang lalu. Ya, tak akan pernah lagi.

Betapa tidak, aku sudah mengalami tiga kali persalinan normal. Itu artinya, sudah tiga kali selaput tipis itu dirobek oleh gunting-gunting rumah sakit. Dan semua orang tahu, jahitan-jahitan dokter tak akan pernah bisa mengembalikan kerapatannya.

***

Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Anakku yang paling kecil baru lahir sekitar tiga bulan yang lalu. Dua orang kakak kembarnya belum sekolah, mereka masih menikmati sisa masa kecilnya sebelum keduanya pergi belajar seperti kakak sulungnya. Sulungku, kini tinggal di pesantren. Suamiku yang mengirimnya ke sana. Katanya, ia harus bisa menghafal ayat-ayat Tuhan sebelum usia belasan tahun.

Aku tak pernah mengerti dengan apa yang ada di dalam otak suamiku. Aku tak pernah bisa meraba isi kepalanya. Anakku baru berusia lima tahun dan ia harus memeras otak siang dan malam untuk menghafal ayat-ayat Tuhan; tanpa bermain, tanpa bersosialisasi, tanpa menonton televisi, dan yang jelas, tanpa pelukan ibunya.

Terkadang, aku hanya bisa menahan air mataku di depan orang-orang. Aku menahan dan menumpahkannya selalu di sepertiga malam terakhir. Aku mengadu pada satu zat yang kupecaya sebagai Tuhan. Aku mengadu sampai suaraku parau. Aku mengadu sekuat yang kubisa. Ya, aku hanya ingin kehidupan yang kuimpi-impikan menjadi nyata. Aku ingin menjadi perempuan seutuhnya, perempuan yang merdeka, yang bebas, yang bisa bersuara lantang atas hidup yang tak pernah kupilih.

***

Siang menjelang. Kudengar suara azan berlomba dengan rintik hujan yang jatuh satu-persatu ke atap rumah. Aku meneguk segelas air bersama beberapa tablet parasetamol dan antihistamin. Kini, kubiarkan pantatku menyentuh karpet bulu berwarna cokelat yang terhampar di ruang keluarga.

Siang ini, aku masih harus berjibaku dengan setumpuk pakaian yang minta disetrika. Kulihat tumpukan itu begitu tinggi menjulang. Bentuknya macam-macam, dari pakaian anak, daster, celana kerja, hingga celana dalam. Aku menyentuhnya satu demi satu dan merapikan lipatannya. Kuhubungkan kabel setrika itu ke colokan putih yang menempel di sudut ruangan. Sambil kembali menghela napas lelah, aku meraih papan hitam yang akan kugunakan sebagai alas setiap kali menyetrika.

Kali ini, anak-anakku sudah terlelap dalam tidur. Dan sekarang, tinggal mataku yang masih menyala bersama televisi yang bersandar rapi di atas meja kaca persegi empat yang tiang-tiangnya terbuat dari kayu bercat putih.

Aku meraih remot hitam yang terlentang di sampingku dan memencet-mencet tombolnya. Tidak ada acara yang menarik siang ini, kecuali, berita tentang demostrasi mahasiswa yang bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda.

Dari kotak elektronik itu, kulihat gambar arak-arakan mahasiswa berjaket kuning dengan membawa bendera makara warna-warni membanjiri Istana Negara. Keningku mulai mengkerut. Kuamati betul-betul gambar yang terpambang di layar televisi itu.

Aku bisa melihat usaha para mahasiswa membelah kerumunan polisi dan menaklukkan jalanan ibu kota yang panas dan berdebu. Oh, sungguh mengagumkan. Aku juga bisa mendengar pekik orasi salah satu dari mereka yang meneriakkan lima tuntutan untuk Presiden Jokowi. Dan seketika, ingatanku kembali melayang menuju tujuh tahun yang lalu, saat aku masih bisa menjadi bagian dari mereka.

Sebelum menikah, aku adalah seorang aktivis. Aku bahkan pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Aksi dan Propaganda di Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat universitas. Saat menjadi mahasiswa, aku adalah perempuan yang terbiasa dengan tingginya mimbar-mimbar orasi dan panasnya jalan-jalan demonstrasi.

Saat itu, meja-meja audiensi dan ruang-ruang rapat hampir menjadi santapanku setiap hari. Ya, aku pernah menjadi salah satu gadis yang berani bersuara lantang saat rezim Orde Baru hendak ditumbangkan.

Ketika itu, seperti kawan-kawanku kebanyakan, aku juga punya cita-cita yang tinggi. Aku pernah ingin menjadi bagian dari mereka yang duduk di kursi-kursi senayan untuk menyuarakan kepentingan umat. Aku ingin menghabiskan hari-hariku bersama kontribusi-kontribusi besar bagi negeri.

Ya, aku ingin menjadi perempuan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Namun, aku segera sadar, impian itu kini hanyalah tinggal impian. Aku terpaksa harus menguburnya dalam-dalam sesaat setelah aku memutuskan untuk menikah dengan Reyhan, suamiku.

***

Aku berjumpa dengan Reyhan di sebuah lembaga dakwah kampus di UI. Kami bekerja sama dalam berbagai kepanitiaan, mulai dari lomba pidato hingga seminar-seminar keislaman. Aku mengenalnya dengan cukup baik, aku melihatnya begitu tampan dan cerdas. Itu sebabnya aku begitu mencintainya dan memutuskan untuk menerima pinangannya.

Reyhan memberikan proposal nikah kepada kedua orang tuaku dan mereka menerimanya dengan cuma-cuma. Reyhan tampaknya memang cukup lihai meyakinkan ayah dan ibuku saat itu. Betapa tidak, di usianya yang baru 22 tahun, ia sudah merintis sebuah usaha start up di bidang teknologi dan informasi dengan omzet mencapai 20 juta perbuan.

Tidak hanya itu, beberapa hari setelah sidang kelulusnnya dari Fakultas Teknik UI, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan tawaran gaji sebesar 17 juta. Cukup tinggi untuk ukuran fresh graduate.

Reyhan menikahiku sesaat setelah aku memeroleh gelar sarjana sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan predikat cumlaude. Dan dari situlah, aku memulai hidupku yang baru. Ya, aku memulai hidupku dalam penjara Reyhan.

Betapa tidak, Reyhan mulai berubah menjadi sangat kaku dan ia mengurungku di rumah atas nama ayat-ayat Tuhan yang ia tafsirkan semaunya. Aku hanya boleh memajang semua sertifikat penghargaan dan ijazah cumlaude-ku di dinding-dinding hanya untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa ia menikahi perempuan yang berpendidikan tinggi.

Aku merasa tak pernah sebebas dahulu. Reyhan menyibukkanku dengan empat orang anak yang lahir di tahun yang berdekatan karena aku tak diperbolehkan meminum pil kontrasepsi. Ya, ia selalu meneriakkan kata-kata haram tatkala aku mencoba memohon untuk sesekali meminumnya.

Aku juga tak boleh keluar rumah seenakku. Aku bahkan tak boleh berpakaian sesuka hatiku. Reyhan membelikanku puluhan gamis berwarna hitam lengkap dengan cadar dan burqa. Dan bodohnya, aku mengenakan semua pakaian itu atas dasar cinta. Aku menuruti semua perkataannya atas nama kasih sayang. Aku mengikuti semua perintahnya atas dasar dalil-dalil agama yang ia gaungkan setiap hari. Aku—dengan penuh kesadaran—rela memenjarakan diriku dalam pelukan Reyhan, dalam janji-janji cinta yang entah ia definisikan sebagai apa.

Dan kini, aku benar-benar menjadi miliknya. Aku hanya bisa diam menerima tamparannya ketika masakanku terlampau asin atau kopi yang kubuat terlalu pahit. Aku hanya bisa diam menerima pukulannya tatkala anakku kakinya berdarah sebab terjatuh saat bermain. Aku hanya diam. Aku percaya bahwa suara perempuan itu aurat dan aib suami harus dijaga. Aku hanya diam, hingga dadaku sesak dan aku memilih menceritakan semua ini pada seorang sahabat yang tinggal di samping rumahku, Halimah.

***

“Kau tak mau menceraikannya?”

“Tidak, Halimah. Aku mencintainya.”

“Tapi ia mengurungmu seperti seekor burung dara, Melati.”

“Aku hanya ingin ia sedikit saja berubah.”

“Kau menginginkan harimau menjelma kucing? Itu tidak mungkin.”

“Astagfirullah. Apa maksudmu? Apa kaupikir perpisahan adalah cara yang terbaik? Keempat anakku masih sangat kecil. Bagaimana bisa mereka tumbuh tanpa orang tua yang lengkap?”

“Anak-anakmu tak akan apa-apa. Kau tinggal mendidiknya dengan baik dan memberinya uang jajan yang cukup. Aku tahu kau ini cerdas sejak dulu, Melati. Ijazah dan curriculum vitae-mu yang luar biasa itu akan mengantarkanmu pada pekerjaan yang mapan.”

“Tapi, apa kaupikir aku sanggup hidup tanpa kasih sayang seorang pria?”

“Apa kau pikir Reyhan benar-benar menyayangimu, Melati? Hah? Ia hanya menganggapmu sebagai boneka yang bisa ia permainkan kapan saja. Apa kau tidak menyadarinya?”

“Tapi aku belum siap menjadi seorang janda, Halimah. Aku belum siap menghadapi pahitnya fitnah dan stigma negatif dari orang-orang di sekitarku. Aku juga belum siap kehilangan separuh agamaku, Halimah. Bukankah pernikahan adalah satu-satunya cara untuk melengkapi separuh agama?”

“Jangan munafik, Melati. Aku tahu kau ini sebenarnya biasa-biasa saja dalam urusan agama. Suamimulah yang membuat isi kepalamu jadi apologetika dan penuh pertimbangan ukhrawi. Melati, kaulihat? Aku ini seorang janda, dan aku masih bisa leluasa melakukan apa pun. Aku bisa ke masjid sesuka hatiku, aku bisa jalan-jalan, aku bisa mendermakan diriku untuk kepentingan umat, aku bisa menghabiskan waktu-waktuku untuk bersolek dan mencari uang. Aku bebas, Melati. Aku merdeka. Apa kau tak ingin sepetiku?”

“Istigfar, ya uhkti.”

“Tak usah kaumengajariku cara meminta ampun kepada Tuhan. Tuhanku baik, Melati. Tuhanku membebaskanku. Rupanya, kauperlu mempertanyakan kembali kebebasanmu pada Tuhamu.”

“Jangan salahkan Tuhanku, Halimah. Ia tak pernah salah. Aku yang memilih takdirku. Aku yang memilih memenjarakan diriku sendiri selama ini.”

“Baiklah, sekarang aku tanya, Melati. Apa  kaumasih ingin bahagia?”

“Tentu saja, Halimah.”

“Kalau begitu, ceraikan saja suamimu. Hei Melati, lihat dirimu. Kau ini masih cukup cantik, Melati. Tinggal dipoles sedikit saja, aku jamin, pria-pria akan mendekatimu. Dan aku yakin, setelah ini, kau akan cukup punya kuasa untuk memilih suami impianmu. Yang bisa membebaskanmu. Yang mau memerdekakanmu.”

“Akan kupikir-pikir lagi, Halimah.”

***

Sudah pukul 24.00 dan Reyhan belum juga pulang. Ketiga malaikat kecilku sudah tenggelam dalam mimpi sejak pukul 21.00. Aku menyibak kanopi dan termangu memandang langit dari jendela. Aku ingat, malam ini adalah malam ke-30 di bulan Oktober. Rembulan sedang terang-terangnya. Aku bisa melihat silau cahaya purnama terpantul oleh kaca-kaca apartemen.

Kubiarkan resahku lesap bersama suara jam yang berdetak konstan, bersama dengung suara nyamuk yang bersembunyi di pojok-pojok ruangan. Aku ingin tak memedulikan Reyhan dengan berpikir macam-macam. Aku tak ingin memikirkan apa yang ia lakukan di luar sana. Tapi ternyata, aku tak bisa. Aku terus saja memikirkannya tanpa henti. Aku terus melamun hingga akhirnya, kudengar suara ponsel bergetar, tanda ada panggilan masuk.

“Assalamualaikum, Abi. Abi tak pulang?”

“Waalaikum salam. Abi masih ada kerjaan. Mungkin pulang besok. Sudah dulu, ya assalamu alaikum.”

Reyhan menutup teleponnya dengan tergesa-gesa. Mungkin, ia memang sedang ada pekerjaan malam ini. Maklum, asisten manager. Pasti sibuk, pikirku. Aku memutuskan untuk mengulurkan selimut dan bersiap memejamkan mata.

Belum sempat si mata benar-benar terpejam, lampu rumah tiba-tiba mati. Aku terperanjat dari tempat tidur. Kuambil senter dan kucari sumber saklar listrik. Masih on. Aku mencoba menengok rumah tetangga yang lain. Tapi tiada ada satu pun yang mati lampunya.

Aku mulai menelpon sahabatku Halimah tapi ia tak juga mengangkat. Aku mulai panik. Ketiga anakku terbangun dan menangis. Aku paham betul, mereka takut kegelapan. Tanpa pikir panjang, kuraih bungsuku dan kugandeng kakak-kakaknya keluar rumah.

Aku mengajak mereka menuju rumah Halimah yang berada tepat di samping rumahku. Kuketuk pintunya dan tak ada jawaban. Ketiga anakku masih menangis. Aku mencoba memegang gagang pintu dan ternyata tak terkunci. Aku mengucap salam dan memanggil nama Halimah dan tetap saja tak ada jawaban. Kuputuskan untuk masuk ke rumahnya. Aku menyuruh kedua anak kembarku menunggu di kursi tamu bersama adik bungsunya. Sementara, aku berjalan menuju kamar Halimah.

Rumah Halimah tampak sepi, namun, tak ada satu pun lampu yang  ia matikan. Ia tampak membiarkan lampu-lampu itu menyala menerangi seluruh sudut rumah. Aku terus berjalan menelusuri sudut rumah itu. Aku mencoba memanggil nama Halimah berkali-kali namun tetap tanpa jawaban.

Sesaat kemudian, aku tiba di depan kamar Halimah yang pintunya tertutup. Tapi ada yang ganji. Aku mendengar suara perempuan yang mendesah seperti sedang dibelai laki-laki. Perempuan itu mendesah begitu hebat disertai bunyi kecupan; seperti bunyi dua bibir yang dilekatkan lalu ditarik kembali. Kini, bukan hanya desahan suara perempuan yang kudengar, tapi juga suara laki-laki yang memanggil-manggil nama Halimah dengan mesra.

Hatiku kalut. Rasa penasaran membuncah. Refleksku menuntuntu tuk mengintip isi kamar itu. Dan sekarang, kulihat di hadapanku; dua orang laki-laki dan perempuan beradu kemesraan di atas ranjang dengan pakaian yang tanggal berserakan di atas lantai; mereka adalah sahabatku sendiri, Halimah, dan Reyhan, suamiku.

Napasku mulai tersengal, hatiku seperti teriris oleh puluhan belati beracun. Kepalaku mulai pening dan dadaku seperti dicambuk oleh kekuatan mahadahsyat. Aku dirajam kecewa. Air mengalir membanjiri mataku yang terbelalak tanpa kedipan. Tubuhku rebah dan kaku. Ngilu menjalar di seluruh persendian. Tapi mulutku hanya bungkam tanpa suara. Malam ini, aku benar-benar kehabisan kata-kata.

Dadaku semakin sesak dan aku tak sanggup lagi terdiam di tempat ini. Aku kemudian berlari secepat yang kubisa, kutinggalkan ketiga anakku di rumah itu. Kutinggalkan kedua pria dan wanita yang khusyuk dalam persetubuhan liarnya. Aku terus berlari ke luar rumah. Aku terus memacu kedua kakiku entah ke mana.

Kubiarkan kepingan hatiku yang patah berserakan di jalan-jalan malam, sedang tubuhku terus berlari membebaskan jiwa dari penjara rasa kecewa. Aku terus berlari seperti kuda yang dikejar harimau. Aku terus berlari. Aku terus berlari keluar dari jeruji-jeruji cinta yang selama ini mengekangku dan kemudian menghancurkanku dengan perselingkuhan yang terpampang nyata di depan mata. Ya, aku terus berlari, entah sampai mana.

Gambar dipinjam dari sini.

Depok, 31 Oktober 2016

Untuk semua perempuan di dunia:

Frista Nanda Pratiwi.

 

 

 

 

Dalam Diam dan Pendam

Aku terpenjara bersama arak-arakan mahasiswa berjaket kuning yang sibuk meneriakkan orasi-orasi aneh. Jumlah mereka tidak sedikit. Ada ratusan kukira.

“Hidup mahasiswa! Hidup nelayan! Hidup rakyat Indonesia!”

Teriakan itu begitu keras menggema, memantul bersama debu dan terik matahari yang begitu ganas mengintimidasi. Aku hanya bisa menarik napas sepanjang yang kubisa, membenarkan jilbab, dan mengusap bibirku yang gincunya sudah mulai luntur disiram peluh.

“Hidup mahasiswa! Hidup nelayan! Hidup rakyat Indonesia!”

Persetan! Aku hanya punya dua pilihan hari ini: pulang nanti, membawa berita, dan semua akan baik-baik saja, atau pulang sekarang, tanpa berita, dan aku harus rela menanggung caci-maki yang mengerikan. Dan bodohnya, aku memilih yang pertama.

Semua ini berawal dari ulah si Reka, pemimpin redaksi yang super sialan itu. Dengan gaya diktatornya yang menyebalkan, ia kembali menyuruhku turun ke jalan. Bukan, bukan untuk berdemonstrasi dan beraudiensi, apalagi membela rakyat kecil.

Bukan! Ia hanya menyuruhku menjadi budak organisasi dan menuntaskan ambisinya: mewujudkan Pers Suara Mahasiswa sebagai satu-satunya pers mahasiswa yang paling up to date dan berpengaruh.

“Apa pun yang terjadi, dapur redaksi harus tetap mengepul!” ujarnya suatu hari.

Bodo amat, kataku. Ya, dapur redaksi akan tetap mengepul, selama orang-orang totol sepertiku mau turun dan meliput. Selama, orang-orang menyedihkan sepertiku mau terseok-seok mengejar para narasumber biadab yang sok keren itu.

Ah, aku benci anak-anak BEM. Aku benci dengan segala birokrasi yang ada di kampus. Gedung rektorat, ruang-ruang dekan, Pusgiwa, asrama mahasiswa, Klinik Satelit, masjid UI, ah aku benci semuanya. Bagiku, di mana ada narasumber, di situlah aku mulai membencinya. Dan hari ini, aku mulai membenci Gedung Kementrian.

***

“Kami sudah menyatakan penolakan keputusan Menko Maritim untuk tetap melanjutkan proyek reklamasi karena merugikan lingkungan dan masyarakat. Ini adalah keputusan yang keliru, Saudara-saudara! Dengan tetap melanjutkan proyek ambisius ini, pemerintah berarti telah menutup mata terhadap proses moratorium yang sedang dilakukan. Hal itu sama saja dengan melecehkan dan melanggar hukum yang ada!” ujarnya.

Sudah satu jam lebih aku melihatnya berdiri di atas podium. Badannya masih tegap, gelora semangat masih kentara dalam nada bicaranya. Ya, ia begitu fasih berpidato soal reklamasi beserta alasan penolakannya. Ia juga cukup lancar menyampaikan tuntutan nelayan dan bahkan tak segan melayangkan kritikan pedas kepada pemerintah.

Aku pikir, argumennya juga cukup logis, ia cukup bisa merangkai gagasan dengan runtut dan proporsional. Aku bahkan sempat beberapa kali mengangguk. Bagiku, ini adalah orasi terkeren yang pernah aku dapati.

Ngomong-ngomong, aku sebenarnya bisa melihat raut letih dari air mukanya. Tapi, suaranya yang lantang dan mengesankan tlah berhasil mengaburkan keletihan itu. Ia cukup bisa tampil prima dan mempesona. Tampaknya, ia banyak belajar soal cara berorasi dan mengendalikan massa.

Kalau dipikir-pikir, ia juga cukup tampan. Lengan almamater yang sedikit tergulung, dipadu dengan peluh yang membasahi wajahnya menjadi kolaborasi yang pas untuk sebuah justifikasi ketampanan.

Aku kemudian melihatnya turun dari podium. Rekan-rekannya menyambut tangannya dengan salam penuh bangga. Tampak jelas olehku, ada senyum kepuasan yang mengembang pada bibirnya. Senyum itu mengembang begitu luwes dan deg. Ada semacam getar aneh yang muncul di dadaku. Sial! Aku turunkan padanganku dan kemudian memilih untuk tidak mengamatinya lagi.

***

Telisik punya telisik, aku baru tahu kalau ia adalah Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Namanya Alfatih. Itu adalah kesimpulan yang aku dapatkan setelah bertanya dengan orang di sebelahku.

“Elah, lo anak Pers Suara Mahasiswa, kan? Kok nggak kenal Alfatih, sih,” ujarnya.

Maklum, aku memang anak baru. Masih ingusan. Baru juga gabung kemarin sore. Eh, serius! Kemarin baru pelantikan. Tapi jangan salah, aku sudah beberapa kali disuruh liputan sama si pemred sialan ketika magang. Ya, aku sudah beberapa kali liputan, dan sayangnya, belum pernah sekali pun mewawancarai Alfatih.

***

Mampus! Ini di luar dugaanku. Aksi yang awalnya baik-baik saja menjadi ricuh tak terkendali. Aku sebenarnya tak begitu mengerti, tapi yang aku pahami, ada beberapa mahasiswa yang memberontak dari kerumunan, mereka memprovokasi yang lain untuk membuyarkan barisan aparat dan merangsang masuk ke dalam Kantor Kementrian Bidang Kemaritiman.

Massa mulai kelimpungan. Polisi agresif. Gas air mata berhambur ke udara. Orang-orang berlari. Aku juga berlari sembari sesekali mengucek mata. Perih, aku mencoba menguceknya lagi. Tak berhasil. Mataku makin memerah dan aku mulai tak sanggup berlari.

Aku meringkuk duduk. Masih mengucek mata. Badanku beberapa kali tersandung kaki-kaki demonstran yang berlarian. Tanganku juga sempat terinjak. Massa makin menjadi-jadi. Aku makin tak berdaya. Tubuhku akhirnya tumbang. Dalam pandangan mata kurang-kurang, aku lantas merasa dibopong oleh seseorang.

Duh! Jangan-jangan polisi. Aku coba merogoh saku dengan sisa tenagaku, mencari-cari kartu pers yang barangkali berguna, kalau-kalau nanti ditanya oleh polisi. Aku coba merogoh sakuku lebih dalam. Tapi tampaknya percuma. Tidak ada. Aku mulai panik. Ingin rasanya turun dari bopongan itu lalu lari secepat mungkin. Tapi tak bisa. Pandangan yang kabur dan tubuh lemas yang penuh memar menjadi alasan logis mengapa aku tidak melakukannya.

Tubuhku diturunkan di balik semak-semak. Orang itu kemudian mengusap mataku dengan sapu tangan yang sudah dibasahi oleh sedikit air. Mataku membaik. Aku mulai mengedip-ngedipkannya. Ini sangat lebih baik. Aku mulai bisa melihat warna-warna di sekitarku. Termasuk melihat seseorang yang tadi membopongku. Alfatih.

***

Aku benar-benar tidak pernah merencanakannya. Aku tidak pernah merencanakan untuk menjadi seseorang yang sangat berbeda dari sebelumnya. Sudah setahun lebih, aku berubah seperti ini. Sudah setahun lebih pula, aku mulai menikmati peranku sebagai reporter.

Aku mulai sangat militan dalam meliput pun menghadiri rapat redaksi. Bahkan, aku masih sering turun meliput hingga sekarang. Tapi bedanya, tidak ada lagi kata “sialan” atau “persetan” yang keluar dari mulutku, meskipun proses peliputan masih sebegitu menyebalkannya, sama seperti setahun yang lalu.

Tidak cukup sampai di situ, aku kini juga sudah menggantikan Reka, menjadi pemimpin redaksi website suaramahasiswa.com, salah satu produk Pers Suara Mahasiswa. Aku menggantikan Reka sesaat setelah ia sukses terpilih menjadi Pemimpin Umum kami. Ya, aku kini benar-benar menjadi sangat berbeda.

Kurasa, semua itu gara-gara Alfatih. Alfatih. Benar. Aku sangat yakin jika semua itu memang gara-gara Alfatih. Sejak kejadian aksi reklamasi saat itu, aku mulai menyukainya. Aku juga mulai membuka mata dan menelisik kehidupan anak-anak BEM. Tidak terlalu buruk, ternyata.

Awalnya, ada semacam gairah dan semangat tersendiri ketika aku dihadapkan dengan beberapa isu kampus yang memungkinkanku meliput dan berjumpa dengan Alfatih. Tapi kemudian, aku mulai kerajingan membaca buku dan berbagai informasi mengenai media dan seluk-beluk jurnalistik. Kini, aku menjadikan jurnalistik bukan hanya sebatas hobi atau tuntutan, tetapi juga menjadi semacam panggilan jiwa. Ya, aku benar-benar menjelma sosok yang lain dari sebelumnya.

***

Sejujurnya, aku juga tidak pernah merencanakan untuk menaruh hati pada orang asing yang tidak begitu aku kenali. Aku tidak pernah merencanakan untuk sekukuh itu mencari informasi mengenai sosok asing itu. Aku tidak pernah merencanakannya bahkan setelah aku mengirimkan beberapa surat rahasia padanya. Pada Alfatih.

Jika cinta adalah soal perhatian, aku pasti kalah telak dengan orang-orang yang selalu berada di dekatmu, yang selalu ada dalam susah dan senangmu.

Jika cinta adalah soal pengorbanan, apalah aku ini yang hanya bisa meluangkan waktu-waktuku untuk mengamatimu dari kejauhan, karena mendekatimu saja, aku tak kuasa.

Aku tak pernah berani menjamin cintaku untukmu adalah yang paling besar dan tulus jika dibandingkan dengan cinta yang diberikan oleh gadis-gadis lain di luar sana, yang begitu leluasa menyapa dan menyentuh kehidupanmu.

Aku tak pernah berani menjamin apa pun kecuali satu hal; benar aku mencintaimu dan tak ada yang lain.

Jika kauberi kesempatan dengan membuka pintu hatimu sedikit saja, aku pasti tak akan menyia-nyiakannya, aku akan berikan yang terbaik selama aku bisa. Namun, jika kesempatan itu tak pernah ada, biarkan aku tetap mencintaimu dengan cara seperti ini saja.

Sudah hampir dua tahun aku memendam perasaanku pada Alfatih. Ini menggelikan. Aku menjelma gadis paling aneh karena menunggu sebuah angan-angan menjadi nyata. Ya, aku menjadi pengagum rahasia yang mahabodoh karena tidak berani mengungkapkannya. Aku tidak berani mengungkapkannya bahkan setelah kami berdua sama-sama lulus dan enyah dari kampus.

***

Duh! Ini sudah terambat. Aku mengegas motor secepat yang kubisa. Panik. Betapa tidak, konferensi pers dimulai jam delapan dan kini—jam delalan lewat 10 menit tapi aku masih tergopoh-gopoh menuju Senayan.

Aku parkir motorku dengan sembarangan. Tidak terkunci. Bodo amat. Aku harus segera menghadiri konferensi pers dan menulis berita, atau honorku selama sebulan akan ditahan. Aku berlari menuju lift. Penuh. Antri. Tidak mau membuang waktu, aku kemudian berlari menuju tangga. Lantai lima tak terlalu jauh, pikirku.

Aku tiba di sebuah ruangan rapi ber-AC. Ya, ruangan yang digunakan untuk konferensi pers. Beberapa wartawan sudah tiba lebih dulu. Aku masih beruntung, konferensi pers belum dimulai. Menko Perekonomian juga belum hadir. Ya, ruangan ini hanya penuh oleh para awak media dan puluhan petugas keamanan.

Sesaat kemudian, dari kejauhan, aku melihat Pak Menko memasuki ruangan  konferensi pers. Ia didampingi oleh seorang ajudan. Tunggu, bukankah itu Alfatih? Aku menggeser posisiku. Mendekat. Aku ingin memastikan apakah itu benar Alfatih. Ya, itu Alfatih. Aku baru tahu kalau sekarang ia menjadi staf ahli menteri. Hebat juga, pikirku.

Selama konferensi pers, aku hanya sibuk mengamati Alfatih. Hmm ini menjadi liputan tertidakfokus selama aku bekerja di Tempo. Menyedihkan. Saat ini, aku benar-benar merasakan bagaimana urusan hati sebegitu berpengaruhnya terhadap profesionalitas. Ya, jujur saja, hingga kini aku masih sendiri dan “rasa itu” sontak hadir lagi.

Usai acara, aku masih mencoba mengamati gerak-gerik Alfatih. Setelah mengantarkan Pak Menteri ke ruangannya, Alfatih kemudian beringsut pergi. Aku mengikutinya. Ia menuju lift untuk turun. Aku masih terus mengikutinya, barangkali, ada kesempatan untuk menyapa—dan mungkin juga menanyakan kabarnya. Beruntung, kami berada dalam satu lift. Tetapi, karena lift yang penuh dan berdesakan, jarak kami terlalu jauh.

Alfatih keluar dari lift dengan langkah sedikit tergesa. Aku masih mengikutinya. Aku melihat dia menuju gerbang depan. Aku masih terus mengikutinya hingga aku melihatnya menghampiri seseorang.

Seorang perempuan muda yang cukup cantik—dengan jilbab besar yang menjulur sampai ke dada—turun dari mobil. Tangannya kemudian meraih tangan Alfatih. Sembari mengucap salam, dikecupnya tangan Alfatih dengan lembut. Sambil terperangah, aku melongok jari-jari yang sedang bersalaman itu. Ada sepasang cicin warna perak yang sama-sama melingkar di jari manis mereka. Ya, aku baru sadar, belum tentu ada kesempatan, untuk yang selalu diam dan memendam.

Depok, 26 September 2016

Gambar dipinjam dari sini.

Sebuah fiksi; kesamaan nama dan peristiwa bukanlah keniscayaan.

Halo, Ponorogo!

image

Halo, Ponorogo!

Aku tak akan pulang dalam waktu dekat ini. Tak akan. Tak akan mungkin. Tapi, bukan berarti aku tak ingin. Aku ingin. Hanya saja, waktu tak kan mengizinkanku. Bukankah, setiap keinginan belum tentu dapat diwujudkan?

***

Sudah tiga tahun, aku tidak pulang untuk merayakan Grebek Suro dan Festival Reyog Nasional. Sudah tiga tahun pula, aku dipaksa terbiasa dengan rutinitas sialan di kampung orang.

Kautahu? Bagiku, pulang menjelma kata sakral yang hanya boleh disebut ketika ujian selesai atau ketika lebaran akan tiba. Ya, aku tak mungkin pulang hanya untuk hal-hal picisan, bukan?

Aku tak mungkin menggadaikan segala tanggung jawabku hanya untuk merayakan pesta rakyat. Tak mungkin! Ah, tampaknya, jarak dan kesibukan memang terlampau keras mendidikku.

Tapi, apakah sebuah pesta rakyat harus dirayakan dengan kepulangan? Beberapa orang memang merayakannya dengan kepulangan, tapi kali ini, aku memilih merayakannya dengan sebuah puisi.

***

image

Sawijining Gurit Ponoragan
Judule: Putune Raden Katong

Lur, dadi putune Raden Katong iku:

Kudu wani nantang
Nantang-nantanga kaya Warok
Ananging, ya aja sok warokan .

Kudu wani gelut
Gelut-geluta kaya Bujang Ganong
Ananging, ya aja sok gelutan

Kudu wani menang
Menang-menanga kaya Klana Sewandana
Ananging, ya aja sok menangan

Lur, dadi putune Raden Katong iku:

Kudu bringas, ra gampang nglokro penggalihe
Kudu giras, ra gampang tugel boyoke
Kudu waras, ra gampang mumet sirahe
Ananging ya
Kudu awas, ra gampang dimanfaatne
ra gampang dipakak-pakakne

Lak ya ngono, ta? Entho-entho
Byuh, byuh
Ra ndlomokane!

Depok, 22 September 2016.

***

image

Karena sempat lahir dan besar di Ponorogo, aku jadi selalu punya tanggung jawab moral untuk turut mengenalkan Reyog Ponorogo sebagai salah satu produk kebudayaan yang membanggakan.

Bukan, ini bukan perkara primordialisme. Sama sekali bukan. Ah, agaknya, aku juga bukan orang yang terlampau fanatik terhadap banyak hal. .

Tapi mungkin begini.

Ada satu alasan kuat yang menjadi pertimbanganku untuk selalu memegang teguh rasa bangga dan kecintaanku pada kesenian itui. Ya, hanya ada satu alasan; reyog itu indah.

Mungkin ini hanyalah alasan yang normatif, terlalu subjektif, dan bahkan kurang argumentatif. Namun yang jelas, aku tidak pernah merasa sembarangan memberikan label dan justifikasi terhadap sebuah produk kebudayaan.

Ya, reyog itu indah, aku tak pernah bisa memungkirinya, dan aku akan selalu mengungkap hal itu di mana saja aku berada.

***

Halo, Ponorogo!

Selamat merayakan Grebek Suro! Aku tidak pulang kali ini. Tapi, kau harus tahu, aku masih bisa merasakan betapa bangganya menjadi Ponorogo.

***

Konten ini diunggah dalam rangka turut memeriahkan Grebeg Suro dan Festival Reyog Nasional XXIII yang digelar mulai 25 September hingga 4 Oktober 2016.

Sumber foto: Jidatbaok.com dan Lensaindonesia.com

fristananda.tumblr.com

Sudah, Tak Usah Resah

Untuk semua yang pernah resah dan nyaris putus asa.

Apa yang sedang kauresahkan, Kawan?
Semenjak jingga mulai berkerumun di langit senja, warna hari jadi gulita dan kaumerupa semacam monofobia; kudapati rautmu pilu membiru, lalu napasmu yang masih penuh sengal mengganjal menjelma aral.

Apa yang sedang kauresahkan, Kawan?
Lihat dirimu. Seperti seorang kekasih yang memungut sendiri kepingan hatinya yang patah, sedihmu meluap tak sudah-sudah; bak layang-layang putus yang melalang tanpa arah, gelisahmu mengembara tiada pernah mau singgah.

Apa yang sedang kauresahkan, Kawan?
Walau setiap rindu belum tentu berujung temu.
Walau setiap cinta belum tentu berjumpa bahagia.
Walau setiap ambisi belum tentu menjadi realisasi.
Walau setiap harapan belum tentu mewujudkan kedamaian.

Dan walau,
waktu sempat menggariskanmu menjadi sesosok puyuh yang harus berteduh sendiri di kala hujan berlabuh, yang hanya bersama angin dan dingin harus kauobati paruhmu yang rapuh setelah perjalanan jauh,
tetaplah teguh.

Untuk semua yang sempat datang atau hilang, yang pergi atau kembali, dan untuk semua yang tak pasti.

“Dan janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 12)

Depok, 6 September 2016

 

Gambar dipinjam dari sini.